Sabtu, 04 Juni 2011

Hukum Yang Terutama, Mengasihi Allah


Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia.  “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”  Jawab Yesus kepadanya:  “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 
Matius 22:34-38
Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata:  “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”  Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik?  Hanya satu yang baik.  Tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.”  Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”  Kata orang muda itu kepada-Nya: “semuanya itu telah kuturuti, apalagi yang masih kurang?”  Kata Yesus kepada-Nya:  “Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”  Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. 
Matius 19:16-22
              
Mengasihi Pribadi  yang Lebih Tinggi daripada Kita
               Pernahkah kita  bertanya dalam hati, mungkinkah saya mengasihi orang yang lebih tinggi daripada saya.  Baik lebih tinggi dalam hal jabatan, lebih tinggi dalam hal ekonomi, lebih tinggi dalam hal iman, lebih tinggi dalam hal pendidikan, dll.  Yang pasti dia lebih tinggi derajatnya daripada kita.   Memang mengasihi orang yang sederajat dengan kita, atau bahkan orang yang lebih “rendah” daripada kita, mungkin itu mudah.  Karena tidak membutuhkan energi yang besar, dan  kapasitas yang besar.  Setidaknya, standar-standar yang dibutuhkan masih bisa kita penuhi.

               Tapi untuk mengasihi Allah, apakah itu mudah.  Dan bisakah kita mengasihi Dia? Bukankah kita adalah manusia yang berdosa.  Yang jangankan mengasihi Allah, berakal budi dan kerinduan untuk mencari Dia pun tidak (Rm 3:9-11).  Kita lebih suka hidup tanpa Tuhan, lebih suka jauh dari Dia, lebih suka hidup dalam dosa? Kita ini adalah orang yang tidak pantas! Lalu mengapa tetap diminta untuk mengasihi Allah?  Bukankah mengasihi diri sendiri dan sesama manusia saja sudah sulit?

Dibutuhkan standar-standar yang lebih tinggi / Ilahi
               Orang lapar, ia akan merasa kita kasihi apabila kita memberi dia makan.  Orang sakit, ia merasa kita kasihi apabila kita memberikan pertolongan agar dia bisa sembuh.  Orang patah hati, ia merasa kita kasihi apabila kita bisa pengertian, perhatian, dan selalu terbuka mendengarkan dia curhat.  Namun yang ilahi ingin kita kasihi dengan standar-standar yang ilahi.  Apa standar ilahi:
  1.  Segenap/seluruh, semuanya (tidak tersisa dan tidak terbagi dengan yang lain)
  2. Tidak terlihat olah manusia (hati, jiwa dan akal budi) hanya Tuhan yang melihatnya
Kesimpulannya: Saya dituntut memberikan yang terbaik, hanya saya dan Tuhan tidak ada yang lain.
Untuk memenuhi standar ilahi, maka kita harus mengasihi Tuhan:

Perlu hati yang besar
               Mengasihi orang yang lebih agung daripada kita, perlu hati yang besar.  Dengan kata lain tidak gampang ciut.  Ibarat orang yang sedang jatuh cinta, meski cintanya ditolak bertubi-tubi, dia tetap berbunga2 untuk mendapatkan sang idolanya.  Meskipun secara bodi, secara kelas, dan secara gaya, secara selera bahkan secara bahasa kita jauh bangat ketinggalan dengan si dia. Dia naik mobil kita naik motor, dia bicara soal sturbuck coffee, kita bicara tentang kopi kapal api. Dia bicara tentang apartemen, kita bicara soal kost-kostan. Dia bicara tentang makanan di restoran kita bicara tentang makanan di warteg.  Nah parahnya nih, dia pintar berbahasa inggris, kita hanya pintar berbahasa Indonesia.  Dia update status di facebook, besok makan dimana?, kita updatenya besok mau makan apa?.  Memang sepertinya semuanya, serasa sejauh langit dari bumi. Seperti kisah si kaya dan Lazarus.  Namun, karena hati yang besar maka kita berkata, “Tak apalah semuanya itu terjadi, gunung tinggi akan ku daki, lautan luas akan kuseberangi, topan badai kuhadapi.” Dengan kata lain kita harus tetap mempunyai hati yang besar untuk meraih yang lebih dari ukuran kemampuan kita.
               Bila hubungan suami istri menjadi pudar.  Dulunya begitu terang seperti matahari bahkan sampai mengeluarkan sengatannya.  Yang rasanya kita geli mendengar kata-kata romantis yang menghujam ditelinga.   Yang katanya “I Love you mom! Kaulah segalanya! Kamu terlihat sangat cantik lebih dari wanita manapun di dunia! Namun sekarang begitu redup, pudar, luntur bahkan hampir padam.  Kasihnya bukan lagi seperti sengatan matahari, tetapi seperti sengatan listrik, yang kadang perkataannya membuat hati kita bergetar2.  Dulunya perkataannya membuat telinga kita terbuka lebar dan mengembang.  Namun kini, telinga menjadi ciut dan hati tersayat2 karena perkataan yang menyakitkan.  Dalam menyingkapi hal yang demikian, kita tidak hanya perlu telinga yang terbuka lebar, tetapi juga perlu hati yang besar.

               Hati yang besar menghasilkan, kasih yang besar, dan kasih yang besar bersumber dari Pribadi yang besar, yaitu Allah sendiri (Yoh. 3:6).  Sumber yang besar itulah yang akan mengalirkan kasih-Nya kepada kita. Dan kasih yang besar menghasilkan tindakan dan pengorbanan yang besar.  Allah dan Abraham adalah sosok pribadi yang mempunyai kasih yang besar.  Allah mengasihi dunia ini, sementara Abraham mengasihi Allah.  Sehingga tindakan yang Allah dan Abraham lakukan adalah pengorbanan yang besar, yaitu dengan menyerahkan “anak” yang tunggal untuk kepentingan orang yang dikasihi.  Namun bedanya mereka adalah, Allah memberikan karena kerelaan-Nya tetapi Abraham karena mengikuti perintah Tuhan.  Mengasihi Allah itu adalah perintah.
Agar kita bisa memiliki kasih itu, maka Allah sendiri dengan sengaja telah mencurahkan, meletakan, memberikan kasih yang besar itu di dalam hati kita (Rm 5:5).  Alkitab berkata, kasih yang besar itu diberikan kepada kita pada saat kita masih lemah (Rm. 5:6), masih berdosa (Rm. 5:8), bahkan masih seteru dengan Allah (Rm. 5:10).  Dengan demikian tidak mustahil untuk kita mengasihi Allah.  Karena Ia telah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh.4:19).  Bahkan Ia telah meletakan kasih yang besar itu di dalam hati kita. 
Bila kita menganggap bahwa kita terlalu mustahil untuk mengasihi Allah karena dosa kita terlalu besar.  Maka ingatlah bahwa didalam hati kita ada kasih Allah yang besar.  Ia sanggup mencurahkan kasih itu di dalam hati kita, masakan Dia tidak sanggup untuk menerima kasih kita?  Ingatlah, bahwa karena tindakan Yesus yang menebus dosa kita, membuat kita menjadi ciptaan yang baru.  Allah telah menerima kita karena Tuhan Yesus.  Ia menerima hidup kita bahkan menerima kasih kita.  Di dalam Kristus Allah menerima kita menjadi anak-anak-Nya.  Jadi di dalam Kristuslah kita tahu bahwa kasih kita telah di persamakan, disejajarkan.  Dan karena Kristuslah Allah meletakan kasih itu di dalam hati kita.  Yaitu kasih yang besar.  Sehingga hati kita dengan hati Allah menjadi cocok atau sepadan.
Allah memang pribadi yang agung, yang suci, dan yang mulia.  Mustahil bagi kita untuk mengasihi Dia dengan kekuatan manusia.  Dan mustahil bagi Allah untuk menerima kasih kita yang terbatas.  Tetapi tidaklah demikian, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus.  Kita mampu mengasihinya dengan segenap hati, karena ada kasih-Nya yang telah Ia letakan di dalam hidup kita.  Kualitas kasih yang diberikan-Nya kepada kita, mampu membawa kita untuk meraih kasih Allah yang lebih tinggi dari kasih kita.

Perlu berjiwa besar
               Kata jiwa di dalam bahasa Ibrani dan Yunani kerap kali di artikan sebagai napas, psikis, mental dan nyawa.  Namun saya tidak menemukan arti khusus dari kata jiwa yang tercantum di dalam bagian Matius 22 ini.  Namun saya mencoba menyimpulkan apa yang dimaksudkan dengan segenap jiwa, berdasarkan apa yang sedang dibicarakan di dalam Matius 22.  Secara keseluruhan saya sendiri melihat baik nafas, psikis dan nyawa.  Semuanya mereka libatkan sepenuhnya untuk mencari kesalahan orang lain.  Dan kesenangan mereka adalah bila bertemu dengan orang yang berbuat kesalahan.
               Orang-orang Farisi dan orang Saduki adalah orang yang beragama.  Mereka begitu sering beribadah.  Senang datang ke Bait Allah dan Sinagoge.  Mereka adalah orang yang sangat taat melakukan Hukum Taurat.  Namun nafas rohani mereka selalu terkesan negative.  Karena mereka cenderung mencari kesalahan orang lain.  Bila orang ketangkap basah berdosa, mereka tidak segan-segan mengadilinya di depan orang banyak.  Seperti perempuan yang ketahuan berbuat zinah.  Mereka hadapkan kepada Yesus, karena mereka ingin mencobai-Nya. Kata mereka kepada Yesus,  “Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"  Jawab Yesus "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."  Mendengar perkataan Yesus, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.  Kata Yesus kepada perempuan itu, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
               Orang Farisi memang sering bertanya kepada Yesus, bukan untuk mengetahui kebenaran tetapi untuk mencobainya.  Mereka berupaya mencari cara bagaimana menjerat Yesus dengan sebuah pertanyaan.  Alhasil, mereka gagal.  Di dalam Matius 22, sebenarnya orang Farisi sudah dua kali bertanya kepada Tuhan Yesus dan tujuan bertanya sama, bukan untuk mengetahui kebenaran tetapi, untuk mencari cara bagaimana bisa menjatuhkannya.  Orang seperti ini saya sebut sebagai orang yang benyali tipis.  Atau berjiwa kecil. 
               Bukankah di dalam kekristenan kita banyak orang yang berjiwa tipis.  Yang senangnya melihat kesalahan orang lain.  Bila bertemu dengan orang yang berbuat salah, kita rasanya ingin segera menjadi hakim atasnya, memberikan sidang, bahkan menjatuhkan vonis atasnya.  Lupakah kita bahwa kita adalah manusia yang bisa berbuat dosa, yang juga bisa berbuat kesalahan yang kecil maupun yang besar. 
               Yesus ingin menyadarkan kita, bahwa mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa harus dengan jiwa yang luas.  Jiwa yang tipis hanya mampu membawa kita melihat ruang yang sempit.  Mencari kesalahan, mengadili, menjatuhkan hukuman tanpa belas kasihan.  Tetapi jiwa yang besar mampu membuat kita bertindak seperti Yesus yang bukan hanya tidak menghukum orang berdosa tetapi justru mengangkatnya.  Manusia tipe Yesuslah yang dibutuhkan dunia dan kerajaan Allah.  Sehingga Dia di utus untuk datang ke dunia. Mengangkat yang berdosa menjadi suci, yang hina menjadi mulia, dan yang tidak layak menjadi layak dihadapan Allah.  Dan itulah yang Yesus kerjakan selama ada di dunia ini.

Perlu berpikir secara Ilahi
Waktu kita masih kanak-kanak kita berpikirnya kekanak-kanakan.  Namun kalau kita sudah dewasa kita berpikirnya selevel orang dewasa.  Sifat kekanak-kanakan kita kita tinggalkan.  Itulah yang disampaikan Paulus kepada orang Korintus (1 Kor. 13:11).  Waktu kita belum mengenal Tuhan Yesus pikiran kita masih duniawi (Yak. 2:4), tetapi setelah di dalam Tuhan Yesus pikiran kita harus sepadan dengan pikiran Kristus (1 Kor. 2:16).  Pikiran yang lama harus kita tinggalkan dan diperbaharui dengan pikiran yang baru (Ef. 4:23).
Mengasihi Tuhan dengan segenap hati itu tidak gampang.  Karena kita harus mengenakan manusia baru.  Kita harus menjadi dewasa.  Kita harus berpikir secara Ilahi.  Mengikuti kehendak Allah. Kita harus mengabaikan kenyamanan kita, memikirkan kehidupan orang lain (1 Ptr.4:1).  Menaruh Allah dan orang lain dalam pikiran kita.  Itulah Paulus, itulah yang dikerjakan Yesus, itulah yang dikerjakan nabi-nabi dan para rasul.  Memang tidak mudah.  Tetapi itulah standar Ilahi. 
Apa yang ada dalam pikiran kita, pikiran Kristuskah atau pikiran duniawi?  Bila pikiran Kristus maka saya ingin berkata Puji Tuhan, tetapi bila pikiran duniawi segeralah ditinggalkan.  Bersikaplah dewasa secara rohani.   Dan segera berpikir seperti Kristus, agar memenuhi standar akal budi yang Ilahi. Pikirkanlah perkara diatas (1 Kol. 3:2).
Saya ingin berkata kepada orang pintar, bila anda pintar tundukanlah kepintaran kita dibawah pikiran Kristus?  Jangan justru kita pakai untuk melawan-Nya, seperti orang Farisi dan Saduki.

Membuang Berhala Kesayangan Kita

Sebelum kita masuk lebih jauh marilah kita melihat isi 10 perintah Allah terlebih dahulu.
1.  Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
2. Jangan membuat bagimu patung atau sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.
3. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.
4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.
5. Hormatilah ayahmu dan ibumu.
6. Jangan membunuh.
7. Jangan berzinah.
8. Jangan mencuri.
9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
10. Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.

               Bicara tentang buang-membuang itu bukanlah hoby kita bukan?  Karena kita semua berbakat mengkoleksi segala sesuatu, bahkan Allah pun kalau bisa IA kita jadikan koleksi.  Sehingga tidak heran kalau orang lebih senang memilih agama yang berallah banyak.
               Kisah orang muda yang kaya memberitahukan kepada kita bahwa dia gagal mengikuti Tuhan bukan karena kurang baik, kurang bermoral atau jahat.  Tetapi karena dia dia melakukan hukum yang kedua, mengerjakan perintah Allah unit yang kedua, yakni mengasihi manusia.  Tetapi tidak rela mengerjakan hukum yang pertama, yakni mengasihi Allah.  Melakukan hukum yang kedua tanpa melakukan hukum yang kedua itu tidak sempurna di mata Tuhan Yesus.  Begitu juga sebaliknya, karena dua hukum sangat berkaitan satu sama lain, tak terpisahkan.  Memisahkan keduanya itu berarti pencemaran hukum dan melanggar hak cipta.
               Kita mengasihi Tuhan saja, bukankah itu yang disebut roh agamawi?  Mengasihi manusia saja itu disebut social dan moral.  Tetapi Tuhan memiliki standar yang lebih agung! Yakni, AKU dan engkau, engkau dan manusia (sesama).  Inilah yang disebut sempurna.  Namun orang muda kaya raya ini, dia bukan hanya tidak melakukan hukum yang pertama, tetapi dia juga kurang melakukan hukum yang ke dua.  Malah dia melanggar kedua-duanya. Dan jatuh kebawah, mencintai pemberian Tuhan. Ketika diminta mengikuti Yesus tidak mau, memberikan seluruh hartanya kepada orang miskin tidak mau. 
               Malah dia mengasihi hartanya. Firman Tuhan berkata, hatinya sedih! Padahal harta bukan Allahnya, dan harta juga bukan sesamanya. Allahnya Yesus, sesamanya manusia.  Di sinilah letak persoalannya, bagi orang kaya ini harta bukanlah merupakan berkat Tuhan, harta bukanlah hanya titipan Tuhan, tetapi harta itu telah menjadi BERHALA.  Mengapa saya berani berkata demikian, karena dia lebih baik hidup tanpa Yesus daripada hidup tanpa harta.  Karena dia lebih baik menabung hartanya daripada diberikan kepada orang miskin.
               Pertanyaan saya, kenapa Tuhan minta semuanya bukan 1/10, bukan 1/5 atau 1/4?  Untuk menunjukan kepada kita bahwa hartanya itu benar2 telah menjadi berhala atas hidupnya.  Untuk menunjukan kepada kita bahwa kasih Allah tidak boleh terbagi dengan yang lain.  Untuk menunjukan kepada kita bahwa harta atau hal apapun yang kita sukai tidak boleh menjadi berhala atas hidup kita.
               Kata patung yang disebutkan dalam butir pertama Dasatitah, “jangan ada padamu Allah lain dihdapan-Ku.  Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada dilangit di atas bumi, di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.  Jangan sujud menyembah atau beribadah kepadanya” (Keluaran 20:3-5).  Dalam bahasa Ibraninya adalah Pesel, umumnya mengacu kepada patung pahatan berupa orang, binatang, atau bentuk2 lainnya.
               Di dalam Perjanjian Baru penyembahan seperti itu tidak lagi dilakukan oleh orang Yahudi.  Penyembahan berhala sudah tidak berupa patung pahatan, tetapi justru berupa sesuatu yang dipahat di dalam hati.   
               Menurut Luther, berhala adalah segala sesuatu yang bukan ALLAh tetapi darinya kita memberi hati, kepercayaan, kasih, pengharapan, pikiran, tenaga, dan seluruh orientasi hidup. 
               Dalam kisah orang kaya ini, dia menjadikan hartanya mengambil posisi Allah yang dianggap jauh lebih tinggi, jauh lebih mulia, jauh lebih menguntungkan dari pada ALLAh yang memberikan harta itu kepadanya.
               Apa berhala masing-masing kita? Yang kepadanya kita menaruh: hati, kepercayaan, kasih, pengharapan, pikiran, tenaga, dan seluruh orientasi hidup.  Bila itu ada pada kita masing2, segeralah buang berhala itu agar tidak menguasi hidup kita.  Dan sembahlah Allah kita yang hidup, jadikan DIA PENGUASA tunggal dalam hidup kita.  Bila ada orang yang menyimpan sesembahan dirumahnya selain Allah, maka Tuhan perintahkan kita untuk membuangnya.
               Saya ingin katakan kepada kita semua, begitu banyak orang yang ingin ikut Tuhan jika DIA mau diduakan, tapi sayangnya, DIA bukanlah ALLAh yang demikian.

 Soli Deo Glory!
By Nikodemus Rindin

Rabu, 18 Mei 2011

Yudas Iskariot Mengalami Penyaringan dari Tuhan


Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu.  Lalu pergilah Yudas kepada imam-imam kepala dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.  Mereka sangat gembira dan bermufakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya.
 Ia menyetujuinya, dan mulai dari waktu itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang banyak.
(Lukas 22:3-6)

Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.  Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.”  Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata:
“Salam Rabi,” lalu mencium Dia.  Tetapi Yesus berkata kepada-Nya:
“Hai teman, untuk itukah engkau datang?”
 Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.
(Matius 26:47-50)

Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia.  Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.”  Tetapi jawab mereka: Apa urusan kami dengan itu?  Itu urusanmu sendiri!”  Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.  Imam kepala mengambil uang perak  itu dan berkata: ”tidak diperbolehkan memasukan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah.”  Sesudah berunding mereka membeli dengan uang itu tanah yang disebut tanah tukang periuk untuk dijadikan tempat  pekuburan orang asing.  Itulah sebabnya tanah itu sampai hari ini disebut Tanah Darah.  Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel, dan memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku.”
(Matius 27:3-10)

Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata: “Hai saudara-saudara, haruslah genap nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu.  Dahulu ia termasuk bilangan kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini.”  Yudas ini telah membeli sebidang tanah dengan upah kejahatannya, lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar.  Hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem, sehingga tanah itu mereka sebut dalam bahasa mereka sendiri “Hakal Dama”, artinya Tanah Darah – “Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya; dan:Biarlah jabatannya diambil orang lain.  Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus berkumpul dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.”  Lalu mereka mengusulkan dua orang:  Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus, dan Matias.  Mereka semua berdoa dan berkata, “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya.”  Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu.
(Kisah Para Rasul 1:15-26) 


   




Pendahuluan:   

               Suatu ketika di dalam khotbahnya, John Sung berkata bahwa Allah menciptakan pelayan-Nya jauh lebih sulit daripada menciptakan segala sesuatu di dalam alam semesta.  Waktu Allah menciptakan langit dan bumi, serta segala isinya, Ia cukup mengatakan satu kalimat, “Jadilah,” maka terjadi.  Tetapi ketika Tuhan menciptakan seorang hamba yang sukses, yang setia, yang rela berkorban, yang agung, Ia perlu mengirimkan Yesus Kristus untuk mati dan bangkit bagi dia, lalu mengirimkan kesulitan-kesulitan untuk membentuknya: menyaring, mengikis, membersihkan dan menguji dia sampai akhirnya dia “jadi.”

               Suatu kali ada seorang hamba Tuhan yang mengajukan pertanyaan seperti ini, “Pada waktu Daud bertempur melawan Goliat, mengapa ia memilih batu yang sangat licin?  Bukankah seharusnya batu yang lancip lebih mudah menusuk ke dalam kepala Goliat?” Dia mengatakan, “ Tuhan ingin Daud memakai yang sudah diasah dan digarap dengan beres, sehingga tidak terlalu cepat menonjolkan diri.” 

               Jika kita memperhatikan batu ditepi sungai, kita jangan berpikir bahwa batu itu adalah buatan kemarin karena setiap batu mengalami proses pembentukan yang begitu lama dan tidak begitu mudah.  Untuk mengubah batu lancip menjadi bulat, diperlukan hujan beberapa ribu kali, gesekan-gerekan antara batu dan  batu selama puluhan tahun dan mengalami kekuatan aliran air  yang deras.  Melalui semua pembentukan itulah batu-batu tersebut menjadi bulat dan tidak akan melukai batu yang lain.
               Jendral MacArthur mempunyai mempunyai satu makalah hasil dari tulisan tangannya sendiri.  Judulnya: The Prayer of A Father (Doa Seorang Ayah).  Biasanya doa seorang ibu  bunyinya begini: “Tuhan, jadikan anakku sukses, lancar, banyak berkatnya dan mengalami sejahtera.  Tidak pernah mengalami kesulitan apa pun: tidak pernah kelaparan, tidak pernah kekurangan uang, tidak pernah menangis, seumur hidup kalau boleh tidak digigit nyamuk.” Kalau saudara berdoa demikian hati-hati, nanti Tuhan jawab begini: “aduh anakku, sorry ya kalau masalah tidak digigit nyamuk itu mustahil, kan ada iklannya “nyamuk cuma takut tiga roda.” Nyamuk sama orang percaya tidak takut, sama hamba Tuhan nyamuk tidak takut, tuh contohnya anak Pak Niko pernah digigit nyamuk. Namun sebagai seorang ayah, MacArthur berdoa seperti ini: “Tuhan, sebagai ayah aku berdoa kepadamu.  Jangan memberikan kelancaran kepada anakku.  Jangan memberikan kesejahteraan kepada anakku.  Jangan memberikan hidup yang terlalu mudah kepada anakku.  Tetapi, saya mohon!  Karuniakanlah dia jalan yang penuh dengan duri, ombak yang cukup besar, dan kesulitan-kesulitan yang sengit, supaya dia berniat untuk berjuang.  Berikanlah dia angin topan dan ombak yang besar, sehingga di tengah-tengah angin topan dan ombak yang besar, bukan saja dia tidak jatuh tenggelam, melainkan bisa berdiri tegak, bahkan bisa menyelamatkan mereka yang sedang tenggelam.” Akhirnya, makalah itu menjadi karya sastra yang agung di abad ke-20, dihafalkan oleh berjuta-juta manusia yang belajar bahasa Inggris, dan menjadi moto di dalam setiap keluarga.

Karena sulitnya membentuk seorang pelayanlah, maka Yesus harus datang ke dunia: mengumpulkan dua belas murid, mendidik, dan hidup di tengah-tengah mereka dengan semangat palayanan, api penginjilan, rela hidup sabar, tekun, dan menderita segala sengsara.  Dia memberikan contoh bagaimana melayani Tuhan sampai tiga setengah tahun lamanya.  Dan itu pun belum cukup sehingga Yesus harus beberapa kali menampakkan diri kepada murid-murid setelah kebangkitan-Nya, sampai akhirnya Ia naik ke Surga.  Di antara murid-murid Yesus pun ada satu orang yang harus mengalami penyaringan dari Tuhan, yaitu Yudas.  Siapakah Yudas dan mengapa ia harus mengalami penyaringan dari Tuhan? Dimanakah letak kesalahannya? Kalau Tuhan Maha tahu kenapa dari semula memilihnya?  Apakah bisa mendapat kesempatan yang kedua?  Semua pertanyaan tersebut akan kita bahas secara perlahan-lahan.

1.      Siapakah Yudas

Di dalam Perjanjian Baru ada beberapa orang yang bernama Yudas, yaitu:
  1. Yudas, putra Yakobus (Lukas 6:16; Kisah Para Rasul 1:13), dia adalah salah satu dari kedua belas murid Tuhan Yesus.  Ia juga dikenal sebagai Tadeus (bandingkan Matius 10:3; Markus 3:18 dan Yohanes 14:22). 
  2. Yudas, orang Galilea (Kisah Para Rasul 5:37).  Dia adalah seorang revolusioner yang terbunuh karena kegitan-kegiatan subversifnya
  3. Yudas Barsabas, yang menghadiri sidang Yerusalem dan melayani sebagai pembawa surat kepada gereja-gereja non Yahudi (Kisah Para Rasul 15:22, 27,32).
  4. Yudas , saudara Yakobus dan saudara tiri Yesus, (Matius 13:55; Markus 6:3)
  5. Yudas Iskariot, murid yang menghianati Yesus (Lukas 3:30,33)


Jadi di dalam Perjanjian Baru, ada lima orang yang bernama Yudas.  Namun hari ini kita khusus membahas tentang Yudas Iskariot.  Ia adalah anak Simon Iskariot. Dan Ia juga adalah murid Tuhan Yesus sebagai bendahara. Kata Yudas adalah bentuk Yunani dari kata Ibrani, yaitu Yuda, yang artinya: Terpujilah Tuhan.  Sungguh sebuah nama yang Indah.  Dari arti namanya mungkin saja orang tuanya adalah seorang yang rohani sehingga nama anaknya berarti terpujilah Tuhan.  Orang tuanya berharap agar Yudas Iskariot kelak menjadi orang yang memuji Tuhan melalui hidupnya.  Itu sama seperti saya yang memberikan nama kepada anak saya Annabelle Cristossen, yang artinya kecantikan yang berpusat pada Kristus.  Melalui nama itu saya dan istri berharap anak kami memiliki kecantikan hidup yang berpusat pada kecantikan hidup  Kristus.  Saya yakin Bapa Ibu sekalian pun demikian, ketika membuat sebuah nama tidak asal bukan, saudara menaruh arti, bahkan harapan didalam nama anak saudara.

Baru-baru ini saya mendengar berita dari papa saya bahwa kulat karetnya dicuri oleh seseorang, orang ini sebelumnya sudah sering mencuri, kalau musim buah dia curi buah, kalau musim tengkawang dia curi tengkawang, barang dagangan orang dicuri, saudara tahu orang yang mencuri ini nama siapa?  Dia bernama Paulus.  Nah, itulah Yudas namanya terpujilah Tuhan tapi kelakuannya terpujilah setan.  Yang memakai nama tokoh2 dalam Alkitab banyak gak di dalam penjara, yang kasusnya nodong, ngerampok, perkosa, korupsi, membunuh dan lain-lain?  Banyak sekali bukan.  Itulah kalau nama asal nama tidak di bawa kepada kehidupan.  Lebih baik, orang bernama “jelek” tapi hidupnya bagus daripada namanya bagus tapi kelakuannya rusak.  Di salah satu daerah di Kalimantan Barat ada orang yang “asal” memberi nama kepada anaknya, saya menyebutkan asal karena nama anak tidak dipikirkan dahulu dan tanpa menaruh harapan dengan nama yang diberikan.  Biasanya mereka memberi nama pas istri melahirkan, jadi apa yang pertama dilihat oleh mata pertama kali saat istri melahirkan anak, itulah yang menjadi nama anaknya.  Misalnya, kalau istrinya melahirkan matanya langsung tetuju pada radio, maka nama anaknya radio,  kalau lihat pintu, maka nama anaknya pintu, kalau lihat penumbuk padi (alu) maka dinamakan penumbuk padi, kalu lihat anaknya jelek maka mereka namakan jelek, kalau lihat anaknya lahir dalam kondisi buta, maka namanya buta. Tentu semua nama itu dalam bahasa Dayak. Saudara tahu kenapa saya bisa menjelaskan ini karena mereka adalah teman-teman saya waktu kecil.

Yudas, arti dari namanya sangat bagus Terpujilah Tuhan.  Namun kalau kita perhatikan di dalam Alkitab dia sering kali tidak memuji Tuhan, tidak mengangungkan Tuhan melalui tindakannya.  Yohanes 12:1-6, mencatat bahwa Ia sering mencuri uang yang disimpan di dalam kas yang dipegangnya.  Ia bendara yang tidak jujur, sering panjang tangan, korupsi, dan bahkan dia melarang Maria meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan Narwastu, Ia menganggap itu sebagai pemborosan.  Seharusnya kalau Yudas ingin memuji nama Tuhan ia senang dengan hal itu dan ia memuji Tuhan karena ada orang yang ingin melakukan yang terbaik untuk kemuliaan Tuhan.  Dari sini saya melihat ciri-ciri orang yang disaring Tuhan adalah orang-orang yang suka mengambil sesuatu dari rumah Tuhan dan tidak senang dengan orang yang melakukan sesuatu untuk Tuhan. Itulah Yudas, ia senang menjadi bendahara, senang melayani, senang juga mengambil uang tetapi tidak senang memberikan yang terbaik untuk Tuhan.  Saya ingin katakan kepada saudara, mungkin saudara tidak mencuri uang dari gereja ini, saudara mengambil benda apapun dari dalam gereja ini, tetapi jika saya menjadi hamba Tuhan, menjadi majelis, menjadi pelayan, menjadi jemaat suka sekali pamer diri dengan selogan lihat aku: baik itu dengan pelayanan kita(khotbah, pemimpin pujian, doa, musik, kolektan, dll), dengan asesoris yang kita pakai, dengan persembahan kita maka kita telah mengambil sesuatu dari rumah Tuhan, itu berarti kita mencuri kemuliaan-Nya.

Bukan hanya digereja tetapi kalau di dunia keluarga, kerja, masyarakat, bahkan Negara. Itu sesuatu hal yang sangat bahaya.  Suatu saat kita bisa saja disaring oleh Tuhan.  Intinya adalah saat kita berdosa itu artinya kita telah mencuri sesuatu dari rumah Tuhan.  Bukankah Firman Tuhan berkata bahwa kita adalah Bait Allah (1 Korintus 3:16).  Bait Allah yang dimaksud disini adalah orang percaya kepada Yesus Kristus.  Jadi orang yang belum dan tidak percaya kepada Yesus Kristus, belum menjadi Bait Allah.  Dan Bait Allah itu sifatnya kekal.  Itu sebab Tuhan tidak mau kita mencemari Bait-Nya dengan dosa.   Orang yang hidup dalam Bait Allah memiliki nilai-nilai kerajaan Allah, dan nilai-nilai itulah yang menjadi gaya hidup mereka setiap hari.  Beranikah kita bertanya kepada diri sendiri, apa benar saya ini percaya Yesus, benarkah saya ini Bait Allah, sudahkah saya memiliki nilai-nilai dan menerapkan gaya hidup kerajaan Allah  dalam kehidupan sehari-hari.  Jangan-jangan kita seperti Yudas yang hanya datang untuk mencuri dan berbuat dosa di Bait Allah.


2.      Mengapa Ia Mengalami Penyaringan dari Tuhan

               Yudas mengalami penyaringan dari Tuhan dan dimana letak kesalahannya.   Berdasarkan firman Tuhan yang kita baca, maka setidaknya ada beberapa kesalahan fatal yang dilakukan Yudas, yaitu:

A.  Ia memilih untuk dipakai oleh Iblis

Lukas 22:3, Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas.

Iblis bisa merasuki orang percaya atau tidak? Tidak!  Kenapa tidak, karena orang percaya Bait Allah, dan Allah tinggal di situ. Boleh masuk tidak ke dalam tubuh orang percaya? Tidak!, Bisa masuk tidak kepada orang percaya, bisa!  Tapi itu tergantung saudara buka pintu apa tidak dan ijinkan dia masuk apa tidak.  Saya ilustrasikan seperti ini, kalau ada orang bertamu ke rumah saudara mereka akan ketok pintu pagar, pintu rumah atau pencet bel bukan?  Kemudian saudara keluar lihat orangnya, kalau keluarga dan kalau kita suka pasti saudara membuka pintu pagar/ rumah sembari berkata silahkan masuk atau dengan kata lain silah masuki rumah saya – terbuka untuk anda.  Tetapi kalau kita tidak kenal atau tidak suka pasti kita hanya melihat saja siapa gerangan orang yang datang, ada kepentingan apa, kalau tukang pos ya kita biarkan saja di luar pagar, demikian juga pencatat rekening PAM dan listrik, dll.   Suatu kali saya pernah pergi ke rumah seseorang pembantunya tidak kenal dengan saya, saya berkata ada bapak ini, ibu ini dan anak ini di rumah?  Oh kalau bapak dan ibu masih di kantor, kalau anaknya di rumah, jawabnya namun dia tidak membuka pagar.  Dalam hati saya wajar karena dia tidak kenal, lalu saya pulang.  Namun yang saya renungkan seperti ini, orang tidak akan masuk ke rumah kita kalau kita tidak membuka pintu. Saya tidak akan masuk ke rumah orang kalau orang tersebut tidak membuka pagar.

        Itulah juga yang saya pikirkan tentang Yudas, Iblis pasti tidak akan masuk kalau Yudas tidak ijinkan masuk ke dalamnya.  Nah, masalahnya adalah orang percaya memang tidak bisa dimasuki oleh Iblis atau kerasukan bila Iblis tidak diundang masuk.  Setahu saya sering kali kita mengundang Iblis masuk ke dalam Bait yang merupakan kepunyaan Allah.  Waktu kita membuka pintu bagi Iblis dan Iblis tinggal di dalam kita maka Allah sendiri akan keluar dari Bait kita.  Allah kita keluar karena Ia tahu diri, sebab dengan mengundang Iblis untuk hidup di dalam kehidupan kita berarti kita sudah tidak butuh Tuhan.  Kalau Tuhan sudah tidak dibutuhkan maka Tuhan sendiri secara sadar akan keluar dari hidup kita. 

        Kalau saudara bekerja disuatu perusahaan posisi saudara sudah diganti oleh orang lain, apakah saudara tunggu diusir baru pergi.  Saya yakin tidak, secara sadar diri saudara akan berpindah dari posisi saudara.  Itulah Tuhan kita, Ia sangat tahu diri, Ia sangat sopan,bahkan Ia sangat rendah hati.  Dengan bijaksana-Nya, Ia tahu bahwa saudara tidak butuh Dia, Ia akan pergi.  Meskipun Dia tahu bahwa hidup kita adalah Bait kepunyaan-Nya.  Tetapi yang harus kita tahu adalah saat kita membiarkan Iblis masuk ke dalam hidup kita, itu berarti kita telah mencuri hak kepemilikan Bait Allah.  Dari milik Allah menjadi milik kita dan diserahkan kepada Iblis.  Itu berarti kita adalah Yudas masa kita yang mengubah hak sertifikat kepemilikan tubuh Bait Allah secara gelap atau illegal kepada Iblis dan itulah dosa Yudas.  Pertanyaannya adalah kapan kita menyerahkan Bait Allah kepada Iblis?  Saat kita hidup di dalam dosa.


B.  Ia memilih untuk mengorbankan Yesus

Lukas 22:2-6, Lalu pergilah Yudas kepada imam-imam kepala dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.  Mereka sangat gembira dan bermufakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya.  Ia menyetujuinya, dan mulai dari waktu itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang banyak.

        Yudas telah kehilangan arah, dari hidup yang menyerahkan diri untuk mengikut Yesus sampai mati menjadi hidup yang menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah  sampai mati.  Dulu Yudas beriktiar untuk mengikut Yesus, melayani-Nya, mengasihi-Nya dan memuliakan Dia, mempergunakan segenap jiwa dan raganya untuk mengikut Yesus, tetapi sekarang mengapa semuanya itu berubah?  Mengapa semangatnya sekarang justru mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus, mengapa ia berkompromi dengan imam-imam kepala.  Jawabnya adalah karena ia tidak mau membayar harga.  Orang Kristen yang tidak mau bayar harga sangat berbahaya sekali, ia bukan hanya mengharapkan sesuatu yang gratis saja tetapi bahkan mengambil keuntungan dari orang lain, kalau ia sudah tidak bisa mengambil keuntungan dari orang lain maka yang dilakukannya adalah mengorbankan orang lain.  Aji mumpung, Yesuskan penuh kasih jadi sebagai orang Kristenkan kamu harus penuh kasih kepada saya.  Kamukan hamba Tuhan seharusnya mengasihi saya.  Kamukan orang kaya selayaknya memberikan uang kepada saya.  Kamukan orang miskin seharusnya tunduk kepada saya.  Nah, kalau kekristenan yang seperti ini kita tanamkan maka, kita telah kehilangan arah.  Yang seharusnya pengikut Kristus siap mengorbankan diri, berubah menjadi orang Kristen yang mengorbankan orang lain.  Yang seharusnya kita datang ke gereja untuk mengorbankan diri di rumah Tuhan berubah menjadi mengorbankan orang lain di rumah Tuhan.  Pokoknya setiap datang ke gereja kita siap mencari korban.   Pendeta khotbah kurang maknyus kita kritik, bajunya yang kurang pas kita kritik,  khotbahnya lambat kita kritik, khotbah cepat kita kritik, dan lain-lain, dan lain-lain. Begitu juga dengan pemain musik, wl, singer, kolektan, bahkan jemaat antar jemaat saling kritik.  Kalau itu yang kita lakukan maka kita beribadah bukan untuk mengorbankan diri tetapi untuk mengorbankan orang lain.  Dan itulah Yudas masa kini.  Saya ingin memberitahukan kepada saudara bahwa suatu ketika ada seorang yang cukup pintar bertanya kepada seorang Pendeta tamu seperti ini, “Pak Pendeta, kenapa ya kalau Pendata saya yang khotbah saya tidak mendapatkan apa-apa dan tidak ada satu hal pun yang dapat saya pelajari dari khotbahnya” Pendeta tamu ini menjawab apakah betul anda tidak bisa belajar apa-apa? Betul Pak Pendeta!  Pendeta tamu ini berkata, “masih ada satu hal yang bisa anda pelajari, yaitu belajar rendah hati.”   Bukankah seringkali kita sulit belajar rendah kepada orang lain, apalagi bila orang itu kurang pandai dari kita, bawahan kita, pembantu kita, namun jangan lupa saudara sebagai murid Yesus masih bisa tetap belajar rendah hati seperti Yesus.  Yesus berkata belajarlah kepadaku karena Aku lemah lembut dan rendah hati.  Itulah kekristenan.

        Abraham ketika naik menghadap Tuhan di gunung Moria, ia datang dengan suatu pergumulan karena ia datang ke sana membawa koban bagi Tuhan.  Dari dirinya ada sesuatu yang ingin ia korbankan kepada Tuhan, ia rela meskipun berat.  Ia tahu persis bahwa Allah ingin dia mengorbankan anaknya dan bukan anak orang lain, ia mengorbankan dirinya dan bukan mengorbankan orang lain sehingga perjalanan menuju Moria merupakan perjalanan yang penuh dengan pergumulan, perlu tetesan air mata, perlu hati yang rela, perlu hidup yang dipersembahkan, meski berat ia tetap melangkah karena ia ingin menyenangkan hati Tuhan.  Rupanya waktu kita datang menghadap Tuhan kita harus mengorbankan diri kita, memang sulit, namun ketaatan pasti akan membuahkan korban yang harum.  Jadi baiklah kalau kita tahu bahwa setiap kali kita masuk ke rumah Tuhan kita sama-sama ingin mempersembahkan diri sebagai korban di hadapan Tuhan. Tidak ada orang yang akan kita korbankan.  

        Kita datang ke gereja bukan untuk mengorbankan pelayan Tuhan yang melayani di gereja.  Kita datang ke gereja bukan untuk mengorbankan orang kaya.  Waktu saya masuk sebagai pelayan di gereja ini, ada seorang berkata kepada saya seperti ini.  Anda melayani di Anugerah jangan karena melihat gereja anugerah yang berduit tetapi lihatlah Anugerah sebagai tempat pelayanan yang disediakan Tuhan untukmu.  Dengan kata-kata itu saya introspeksi diri dihadapan Tuhan dan saya bersyukur karena ada orang yang Tuhan pakai untuk mengingatkan saya.  Namun maksud saya adalah jangan kita datang ke gereja ini karena gereja ini “kaya” atau karena ada orang kaya di dalamnya sehingga kita bisa minta-minta dan mengorbankan orang kaya tetapi biarlah kita datang ke gereja untuk memperkaya semua orang yang ada di gereja ini dengan kasih Tuhan. Orang kaya tidak boleh mengorbankan orang miskin, seperti perumpamaan yang dikisahkan nabi Natan kepada Daud.  Namun masing-masing kita Tuhan tuntut agar mengorbankan diri kita. Kalau itu yang kita lakukan maka rumah Tuhan akan kaya/penuh dengan kemuliaan Tuhan.   Puji Tuhan. 

        Suatu saat ada pasangan suami istri yang bertengkar gara-gara sang anak tidak naik kelas.  Mereka saling marah satu sama lain. Suami mempersalahkan istri, kenapa kamu tinggal dirumah tidak membimbing anak untuk belajar dengan baik.  Istri tidak mau kalah, kamu pulang dari kantor bukannya menolong kerja dirumah, eh main catur dan nonton bola melulu, makan tu catur dan bola.  Seharusnya bisa membimbing anak belajar.  Akhirnya terjadi perubahan yang dratis, tadi tidurnya berhadapan, sekarang tidurnya membelakangi, yang tadinya sering ngobrol di meja makan sekarang diam seribu bahasa, yang tadinya doa bersama, sekarang doa masing-masing, yang tadinya pergi sama-sama, sekarang pergi masing-masing.  Apakah enak hidup seperti itu, tentu tidak! Itulah yang dialami mereka, singkat cerita akhirnya pasangan ini setelah dikonsling oleh hamba Tuhan menjadi sadar, bahwa meraka harus belajar mengalah, belajar memaafkan, belajar mengorbankan perasaan dan memutuskan untuk datang kepada pasangannya untuk minta maaf karena dia salah.  Sang suami berkata ma, minta maaf ya saya salah, istri berkata pa bukan papa yang salah tapi mama, gak ma papa yang salah, gak pa mama yang salah akhirnya mereka ribut lagi karena keduanya saling ngotot dan tidak mau mengalah.  Apakah disini ada yang demikian? Tidak ya! Tapi yang ngotot bahwa dirinya benar banyak ya.  Kamu yang salah! Bukan saya yang salah tapi kamu.  Kalau itu yang terjadi berarti kita mengorbankan orang lain.
       
C.  Ia membuang darah Yesus           

Matius 27:3-4, Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia.  Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.”  Tetapi jawab mereka: Apa urusan kami dengan itu?  Itu urusanmu sendiri!” 

Sikap penolakan Yudas terhadap keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus terlihat dari tiga hal:
1.      Yudas menyerahkan diri untuk dipakai oleh Iblis: sebagai tanda penolakan Yudas terhadap Yesus
2.      Yudas menjual Yesus seharga tiga puluh uang perak: sebagai tanda bahwa bagi Yudas, Yesus bisa dijual dengan harga yang sangat murah/rendak (lihat Keluaran 21:23).  Padahal Alkitab berkata bahwa darah Yesus adalah darah yang mahal, 1 Petrus 1:18-19.
3.      Yudas menyerahkan darah Yesus:  sebagai sikap menolak darah Yesus dengan sengaja.

Kata “menyerahkan” disini menggunakan kata Yunani paradidomai yang berbicara tentang menyerahkan tahanan untuk dihukum.  Itu berarti maksud Yudas menyerahkan Yesus bukan dengan tujuan yang baik, namun dengan tujuan untuk mencelakakan-Nya.  Bukan hanya itu saja bahkan Yudas mengakui bahwa dirinya telah menyerahkan darah orang yang tidak bersalah.  Orang yang tidak bersalah tentu tidak layak diperlakukan tidak adil apalagi harus diserahkan sebagai tahanan untuk dihukum.  Mengapa Yudas begitu tega melakukan hal yang demikian?  Itu karena ambisi yang tidak dikendalikan dengan kasih kepada Allah.  Apa saja yang mau ia lakukan tak penting orang lain untung atau rugi, asal itu bisa menguntungkan dirinya sendiri.


Seorang penafsir berkata bahwa, “Yudas bukan hanya menyerahkan darah orang yang tidak bersalah tetapi ia menumpahkan darah orang yang tidak bersalah.”  Kata menumpahkan disini berarti membuang secara sadar, secara terencana dan secara sengaja.  Jadi Yudas menumpahkan darah Yesus bukan karena hilap, bukan karena tidak terencana, dan bukan karena tidak sengaja.  Apabila ada orang yang melakukan pembunuhan secara tidak sengaja tentu masih bisa dimaafkan atau setidaknya menjalani proses hukum yang ringan.  Namun apabila seseorang yang melakukan pembunuhan/penumpahan darah secara sengaja, terencana, dan sadar seperti teroris maka tidak heran kalau diantara mereka harus ada yang menjalani hukuman mati.
Yudas membuang darah Yesus membuktikan bahwa ia menolak Yesus dengan sengaja.  Apabila saudara memberikan air kepada saya, kemudian saya membuang dengan sengaja air tersebut, kira-kira saudara akan memberikan air itu lagi atau tidak.  Saya yakin pasti tidak karena saya tidak tahu diri, sudah diberi percuma lalu dibuang, lebih baik air itu, saudara berikan kepada orang lain bukan.  Itulah yang terjadi pada Yudas, ia telah ditawarkan darah Yesus tetapi ia menolaknya maka lebih baik darah Yesus diberikan kepada orang lain.  Begitu juga dengan pelayanannya, ia tidak setia melayani Tuhan akhirnya pelayanannya sebagai seorang rasul harus diberikan kepada orang lain, yakni Matias.  Sungguh menyedihkan bukan. Sudah tidak menerima keselamatan, jabatan kerasulan dicopot darinya, penyesalannya ditolak. Itu sebab jangan kira kita sudah ikut Yesus, rajin datang ke gereja, dan rajin melayani kita yakin pasti selamat dan bisa berbuat dosa semaunya.  Itu sebuah kesalahan besar.  Keselamatan akan kita perolah apabila kita menerima darah Yesus, tidak menumpahkannya dengan sengaja tapi mempersembahkan hidup kepada-Nya.  Apabila kita menolak darah Yesus, jangan kira kita akan punya kesempatan kedua, apabila kita menumpahkan darah Yesus dengan sengaja, jangan kira Tuhan akan memberikan darah-Nya lagi kepada kita.  Apabila kita membuang darah-Nya maka kita harus tahu bahwa kita telah kehilangan kesempatan keselamatan untuk selamanya.

3.  Mengapa Tuhan memanggil Yudas, jika tahu ia akan menjual Yesus?

a.      Untuk membuktikan betapa rusak sifat manusia secara umum, yang diwakili olah satu orang saja.    Meskipun  diberi kesempatan yang baik, guru yang baik, menerima panggilan yang mulia, berkumpul dengan rekan yang terbaik di dunia tetap ia tidak mempunyai perubahan apa pun sebab ia bersandar pada  kekuatannya sendiri.  Ia menganggap dirinya pintar dan akhirnya binasa total.

b.      Untuk menghibur hati para orang tua, guru, dan semua orang percaya.  Jika ada murid, anak, dan orang yang berontak, melawan tidak setuju dengan saudara, kita tidak perlu bersusah hati, Yesuspun mempunyai murid yang demikian meski Dia Mahakuasa. Mahabijak, mempunyai rencana yang lebih tinggi dari rencana manusia.  Asal dia tetap cinta Tuhan masih ada obatnya.  Dan kita bisa berdoa agar ada orang lain yang Tuhan pakai untuk mendidik dia agar membawanya kembali.

c.      Untuk mengingatkan kita bahwa tidak semua orang yang mengikut Tuhan, melayani Tuhan akan menerima darah-Nya

d.      Untuk memberitahu kita bahwa tidak semua orang yang mengikut Tuhan, melayani Tuhan  akan mengasihi Dia dengan sungguh-sungguh. 

e.      Untuk mengingatkan kita supaya kita tidak merendahkan, menolak bahkan menumpahkan darah Yesus.

Kesimpulan: 

        Setelah kita mengetahui tentang sebab-sebab Yudas disaring oleh Tuhan, baiklah kita belajar untuk menerima kehadiran Yesus, mengorbankan diri, dan menerima darah Yesus.  Saya percaya dengan melakukan hal yang demikian, semua kita akan mengalami kelimpahan dari Tuhan.  Dan saya berdoa supaya kita semua tetap dipakai Tuhan untuk melayani Dia,  sampai kesudahan jaman dan darah-Nya tetap mengalir dalam hidup kita sampai kekekalan. Amin.

khotbah